Jumat, 28 Februari 2020

MAWAR PUTIH UNTUK IBU




“Yes! Aku keterima!”


Kirana girang karena dia sukses mencari kerja di perusahaan besar impiannya, May Group. Sepertinya dia sudah tidak sabar untuk memberitahukan pencapaiannya kepada sang ibu tercinta.

Kirana kembali ke rumah naik kereta. Dalam perjalanan pulangnya, dia teringat akan masa kecilnya. Orang tuanya sering mengajaknya ke pantai, bercanda ria dan tawa. Kirana pun tersenyum mengingat kenangan masa kecilnya.

Sebelum menginjakkan kaki di rumah, Kirana menyempatkan diri mampir ke toko bunga. Dia membeli setangkai mawar putih kesukaan ibunya. Dia tersenyum memandangi setangkai mawar yang ada di hadapannya.

Kirana memberikan kejutan setangkai bunga mawar putih kepada seorang ibu-ibu berdaster yang sedang menyiram tanaman. Ibu-ibu itu pun senang dengan kepulangan Kirana. Dia adalah Bu Sumi, ibu dari Kirana. Bu Sumi semakin bertambah senang dengan keberhasilan yang dibawa Kirana.

Bu Sumi membeli sepasang sepatu untuk Kirana. Dia memberikan sepatu itu sebagai hadiah atas keberhasilan Kirana mencapai impiannya. Kirana tersenyum atas pemberian ibunya.
***

“Halo. Ibu apa kabar?” tanya Kirana yang saat ini telah berada di luar pulau karena pekerjaannya.
“Kirana..,” Bu Sumi menjawab telepon Kirana. Saking bahagianya, Bu Sumi tidak bisa berkata apa-apa.
“Ibu?” tanya Kirana heran.
“Ibu… gak papa Nak… Ibu baik-baik saja. Ibu bahagiaaa sekali Nak,”kata Bu Sumi.

Begitulah. Sebagai anak yang berbakti, di saat-saat senggang, Kirana selalu menghubungi ibunya untuk menanyakan kabarnya dll.

Bulan Ramadan tiba. Setiap waktu sahur, Kirana selalu menyempatkan menelepon ibunya.
Suatu ketika Kirana mendengar ibunya terbatuk-batuk di telepon. Dia pun mulai khawatir.

“Ibu gak papa?” Tanya Kirana.
“Gak papa… Uhuk uhuk... Cuma batuk biasa…,” jawab Bu Sumi.
“Oh…. Eh iya Bu. Bentar lagi Kirana mudik ni. Ibu mau dibawain apa?”
“Gak usah…. Yang penting kamu sampai sini selamat aja….”
“Hehe….”
***

Seorang perempuan beransel membawa sebuah buket bunga mawar putih. Dia mengetuk sebuah rumah kayu sederhana milik Bu Sumi. Dia Kirana. Dia telah pulang dengan selamat bersama dengan seikat buket bunganya.

Ketukan pintu Kirana tak kunjung mendapat jawaban dari ibunya. Dia pun mencoba membuka pintu rumahnya. Ternyata pintunya tidak terkunci. Pintu pun terbuka. Kirana masuk ke dalam rumah. Keadaannya sepi.

Dari jauh Kirana memperhatikan ibunya yang sedang duduk di kursi malas. Dia panggil ibunya tetapi ibunya tetap tidak menyahut. Didorong oleh rasa penasarannya, dia pun perlahan mendekati ibunya yang sedari tadi duduk tenang. Dia perhatikan raut muka ibunya yang diam tenang, lalu dia mencoba membangunkan ibunya. 

Dua kelopak mata tua terbuka. Kirana lega. Ternyata ibunya hanya tertidur pulas. 

-The End-

Minggu, 23 Februari 2020

JOGJA DAN KEISTIMEWAANNYA




~Sugeng Rawuh~
 
 




Kata orang, Jogja itu Istimewa. Kenapa demikian?

Banyak hal yang menjadikan Jogja itu Istimewa. Coba deh tanyain ke teman-temanmu yang pernah tinggal di Jogja, apa istimewanya Jogja. Biasanya mereka akan sebut mulai dari banyak kenangan, pacar , makan murah, wisatanya bagus-bagus, dlsb. Tapi…………….. Tahukah kalian? Dari sisi sejarahnya, Jogja itu istimewa karena dulu sebelum bergabung dengan NKRI, Sang Sri Sultan Hamengku Buwono IX pernah melindungi pemerintah RI dari Belanda. Bahkan para pejabat RI diberikan rumah, kantor, hingga uang lho oleh Sultan. Tak cukup sampai di situ. Demi membela Gerilyawan RI, Sultan tak gentar hadapi Belanda meski meriam-meriam sudah disiapkan di luar Keraton. "Kamu (Belanda) hanya bisa memasuki rumahku dengan melangkahi mayat saya," kata Sultan. Selain itu, Sultan pun tak bisa disogok oleh Belanda agar mau bekerja sama. Atas jasa besar itulah Jogja dianugerahi keistimewaan (otonomi khusus) sehingga namanya menjadi Daerah Istimewa Yogyakarta.




Status “istimewa” ini mencakup apa saja sih?
1.    Istimewa dalam hal Sejarah
(sudah dijelaskan di intro)

2.    Istimewa dalam hal Bentuk Pemerintahan
Jadi, bentuk pemerintahan D. I. Yogyakarta ini terdiri dari wilayah Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman yang menjadi daerah setingkat provinsi yang bersifat kerajaan dalam kesatuan NKRI.

3.    Istimewa dalam hal Kepala Pemerintahan
Jadi, di saat provinsi-provinsi lain sedang sibuk dengan pilkada, hanya satu provinsi yang “leyeh-leyeh” (bersantai-santai) tidak mengadakan pilkada, yaitu D. I. Yogyakarta. Itu terjadi karena sudah ditetapkan dalam Piagam Kedudukan 19 Agustus 1945 bahwa Gubernur dan Wakil Gubernur abadi D. I. Yogyakarta adalah Sri Sultan Hamengku Buwono dan Sri Paduka Pakualaman. 



Sekarang kamu sudah tahu kan tentang keistimewaan Jogja. Jangan lupa, kapan-kapan main-main donk ke siniii.

Referensi:
http://www.bpkp.go.id/diy/konten/815/sejarah-keistimewaan-yogyakarta
https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-sultan-yogya-tak-mempan-disuap-saham-perusahaan-asing.html 
 


PEMASANGAN BENDERA MERAH PUTIH DI TANAH AIR

Sang Saka Merah Putih Hari kemerdekaan Republik Indonesia tinggal 16 hari lagi, 2 pekan lebih sedikit. Setiap tahun seluruh Indonesia...