Minggu, 29 Maret 2020

CERITA ZAMAN DULU

Seorang ibu bercerita

Ada hal menarik yang ingin aku bagikan di sini. Ini adalah cerita-cerita ibuku yang lahir tahun 1960-an tentang kehidupan pada zaman beliau kecil. Aneh tapi nyata. Ceritanya tidak masuk akal dan terkadang membuatku ingin tertawa tetapi ini adalah masuk akal pada zamannya. Cerita Zadul (Zaman Dulu) ini aku juga lengkapi dengan fakta. Selain itu aku tambahkan juga cerita fakta yang tidak kalah menarik. Simak potongan cerita-cerita berikut!


1.      CAHAYA MERAH SESAAT DI LANGIT
Cahaya dari kilat

Berjualan malam hari di halaman sebuah hotel, kami dapat melihat langit malam yang gelap. Tiba-tiba gelapnya malam dipecahkan oleh munculnya cahaya merah sesaat di langit malam. Tiba-tiba ibuku bercerita,”Nduk, kalau zaman dulu, cahaya merah yang kayak gitu itu adalah sirip ikan di laut yang memantul sampai ke langit.”

Ekspresiku terheran-heran dengan pernyataan ibuku. Aneh bener ya mantulnya sampai ke langit. Kalau zaman sekarang sih itu namanya cahaya yang terpancar dari kilat.

2.      NYALA API DI KUBURAN
Tahukah kalian bahwa terkadang kita bisa menjumpai nyala api di area kuburan atau yang disebut colok atau kemamang? Orang-orang zaman dahulu menganggap bahwa itu adalah pusaka (bisa sejenis keris atau batu akik). Lalu, apa kabar dengan zaman sekarang? Usut punya usut, colok atau kemamang itu adalah gas fosfor yang keluar dari tanah lalu terbakar oksigen. Gas fosfor ini ada di kuburan karena di kuburan banyak tulang-belulang orang mati yang merupakan sumber gas fosfor dan gas fosfor ini suka mendatangi sumber cahaya yang ada di sekitarnya.

Colok atau kemamang akan meledak bila bertabrakan dengan sumber cahaya. Karena itu apabila di kuburan kamu dikejar colok atau kemamang, segera matikanlah sumber cahaya yang ada bersamamu! Sumber cahaya ini bisa dari senter, lampu sepeda motor, lilin, dll.  
           
3.      DUYUNG PEMBAWA ANAK
Dahulu, tidak ada yang namanya penculikan, adanya yang disebut “duyung”. Jadi orang tua-orang tua zaman dahulu selalu mengingatkan anak-anaknya agar hati-hati kalau bermain, jangan jauh-jauh supaya tidak dibawa yang namanya duyung. Konon, kalau sudah dibawa duyung, anak-anak akan ditanam di dalam tanah sebagai tumbal supaya jembatan tetap berdiri kokoh.

Ngeri aku denger cerita macam itu…. Kalau sekarang sih sudah bukan “dibawa duyung” lagi namanya tetapi “penculikan”. Sedih aku ngedenger kata “penculikan” ini….

4.      PEREKAT BATU-BATU CANDI
Tahukah kamu apa pemikiran orang-orang zaman dahulu tentang perekat batu-batu candi? Mungkin kalian akan tertawa atau malah heran. Ternyata, orang-orang zaman dahulu mengira bahwa perekat batu-batu candi itu adalah juruh (gula merah cair), juruh yang banyakkk sekali.
 
Juruh
Kalau sekarang, kita tahu bahwa candi-candi itu bisa tersusun karena dalam penumpukan batu candi, pada batu-batu tertentu dilubangi untuk mengaitkan batu satu dengan yang lainnya.

5.      RAMADHAN DI DESA

Menyusuri jalanan dengan oncor

Ramadhan di desa ibuku sungguh menarik untuk diceritakan. Ibuku bercerita ketika masih kecil, setiap salat tarawih beliau dan teman-temannya membawa oncor (obor) menyeberangi sungai yang deras tanpa rasa takut. Luar biasa menurutku. Di desa zaman dahulu pasti suasana malamnya gelap dan masih kental dengan nuansa gaib. Salut ya pada pemberani semua menyisir kegelapan malam di atas derasnya sungai demi menjalankan salat tarawih. Teladan ini. Semoga kita tidak lupa dengan kenikmatan berupa kemudahan menjalankan salat tarawih di zaman sekarang ya. Amin.




Referensi:
Komunikasi langsung dengan ibu.
Sasongko, Setiawan G. 2012. Dalan Sugih. Klaten:  Pustaka Wasilah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEMASANGAN BENDERA MERAH PUTIH DI TANAH AIR

Sang Saka Merah Putih Hari kemerdekaan Republik Indonesia tinggal 16 hari lagi, 2 pekan lebih sedikit. Setiap tahun seluruh Indonesia...