Kamis, 02 April 2020

KISAH TATIEK D. SUPRIASTUTI, DIRINYA PERNAH NOLAK DINIKAHI SULTAN JOGJA

Tatiek D. Supriastuti
Sbr:  DeviantArt/Fajarciptalin

Tatiek Dradjad Supriastuti merupakan anggota dewan yang lahir di Jakarta dari rahim seorang ibu bernama Susamtilah Soepono yang bersuamikan seorang ABRI, Soepono Digdosastropranoto. Dia adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara dan merupakan anak perempuan satu-satunya. Mungkin menjadi anak perempuan satu-satunya di antara enam saudara laki-lakinya membuat dia cenderung kelaki-lakian alias tomboy. Tak main-main. Dia pernah berusaha keras untuk berlatih terjun payung namun tanpa sepengetahuan ibunya. Sayangnya, di hari dia akan terjun payung, sang ibu justru mengetahui kegiatan ekstremnya sehingga dia dilarang terjun payung. Rupanya sang ibu khawatir kalau terjadi sesuatu kepada anak perempuan satu-satunya itu.


Kedua orang tua Tatiek adalah orang Jogja asli. Maka dari itu setiap setahun sekali keluarga Tatiek liburan ke Jogja, menginap di rumah eyangnya (mantan abdi dalem Keraton Jogja) di Suronatan. Saat berlibur di Jogja, Tatiek yang masih duduk di bangku SMA itu pergi ke warung bakmi di daerah Rotowijayan. Di sanalah ia bertemu dengan Raden Mas Herjuno Darpito (Putra Mahkota Keraton Yogyakarta). Ternyata, pertemuannya dengan Herjuno terjadi tidak hanya sekali di warung bakmi. Untuk kedua kalinya mereka bertemu lagi di Malioboro. Sayangnya, setelah itu mereka tidak bertemu lagi karena Tatiek kembali ke Jakarta.

Kira-kira setahun kemudian, eyang Tatiek meninggal dunia. Tatiek pun kembali ke Yogyakarta. Di situ dia bertemu dengan Herjuno kembali. Herjuno pun tak segan membantu mengurus pemakaman kakeknya. Sejak saat itulah Tatiek merasa kalau Herjuno sedang berusaha mendekatinya.
 
Tatiek D. Supriastuti dan R.M. Herjuno Darpito sewaktu muda
Sbr:  Brilio.net
Singkat cerita, Tatiek dan Herjuno menjalin hubungan. Hubungannya pun akhirnya sampai pada tahap lamaran secara pribadi. Di situlah Tatiek takut melanjutkan hubungannya dengan Herjuno. Dia takut kalau-kalau tidak bisa beradaptasi dengan adat Keraton. Dia pun menolak untuk dinikahi Herjuno. Untuk menghindari Herjuno, dia sampai kabur ke Jerman dengan alasan ingin kuliah di Eropa.

Tatiek berada di Jerman bersama kakaknya selama tiga bulan. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke Jakarta setelah ditelepon ibunya untuk dinikahkan. Selain itu dia juga ingin kuliah di Universitas Trisakti. Setelah setahun kuliah di Universitas Trisakti, akhirnya rombongan keluarga Herjuno pun melamar Tatiek. Mereka pun baru menikah pada tahun 1968 bersama-sama dengan ketiga putri Sultan HB IX lainnya. Selanjutnya, ketika Herjuno naik takhta, dia pun diberi gelar Sri Sultan Hamengku Buwono X dan istrinya, Tatiek pun diberi gelar Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas.

Tatiek D.S. aka Gusti Kanjeng Ratu Hemas
Sbr:  rmol.id

Kehidupan awalnya sebagai Ratu dijalani GKR Hemas terutama di bidang sosial di Yayasan Sayap Ibu dan sebagai pengajar pemberantasan buta aksara di Jogja. Dia pun pernah menjadi anggota MPR dan juga Pemimpin Redaksi Majalah Kartini. Di tahun 2004, dia mengajukan diri lewat jalur independen (non partai) untuk menjadi calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) D.I. Yogyakarta dan terpilih menjadi anggota DPD. Sampai sekarang, GKR Hemas selalu terpilih menjadi anggota DPD. Namun, dia berujar bahwa menjadi anggota DPD periode ini adalah yang terakhir baginya berkarir di dunia politik.




Referensi:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEMASANGAN BENDERA MERAH PUTIH DI TANAH AIR

Sang Saka Merah Putih Hari kemerdekaan Republik Indonesia tinggal 16 hari lagi, 2 pekan lebih sedikit. Setiap tahun seluruh Indonesia...