Jumat, 12 Juni 2020

JIMPITAN, GOTONG-ROYONG PENGUMPULAN UANG ATAU BERAS UNTUK KEMASLAHATAN BERSAMA

Jimpitan Uang Receh
Ini adalah hasil wawancara dengan bapak saya mengenai “Jimpitan” disertai referensi-referensi yang mendukung.

Apa itu jimpitan?
Jimpitan adalah uang kumpulan warga untuk menggerakkan ronda yang ditaruh pada sebuah wadah (biasanya irisan botol air mineral platik atau bambu) yang digantungkan pada tembok. Selaras dengan definisi yang bapak saya sampaikan, ahli budaya Jawa Prapto Yuwono menuturkan bahwa jimpitan adalah satu bentuk tabungan di desa yang tujuannya sekadar mengganti jasa ronda. Beliau juga mengungkapkan bahwa jimpit berasal dari bahasa Jawa yang artinya mengambil sedikit dengan tiga ujung jari, yaitu jempol, telunjuk, dan jari tengah.


Pemanfaatan dan Kepengurusan Jimpitan
Jimpitan biasanya diurus oleh para pengurus RT (Rukun Tetangga). Selain untuk keperluan ronda, uang jimpitan juga dapat digunakan untuk kerja bakti, pemasangan umbul-umbul 17-an, dana sosial kunjungan warga yang sakit, menambal kerusakan jalan dengan semen dan pasir, wisata, dan juga membeli alat dan cairan penyemprot disinfektan untuk penanggulangan corona. Uang jimpitan tersebut akan dicairkan untuk hal-hal tersebut setelah dimusyawarahkan dengan pengurus RT dan disetujui oleh ketua RT.
 
Beras
https://www.pexels.com/@blckhand
Dulunya, jimpitan bukan berupa uang tetapi beras dalam jumlah yang sedikit (sejimpit). Namun karena hasil jimpitan beras ini harus dijual dahulu baru mendapatkan sejumlah uang sehingga merepotkan, kini jimpitan diganti dengan menggunakan uang recehan. Nominal jimpitan yang disumbangkan oleh setiap keluarga pun bervariasi sesuai keinginan pemberi jimpitan. Nominalnya bisa Rp300 (minimal), Rp500, atau bahkan Rp1000.

Di desa Kauman, Jepara, Jawa Tengah, warga jimpitan uang receh sebesar Rp500. Dana tersebut dikumpulkan lalu dikelola sendiri untuk membangun desa. Uang yang terkumpul dijadikan modal usaha berupa warung kopi, toko kecil yang menjual beras organik dan rokok, serta membangun fasilitas internet bagi warga. Jimpitan ini juga berhasil membuka lapangan pekerjaan bagi 4—7 warga. Dalam hitungan bulan, dana hasil swakelola tersebut berkembang dan rencananya akan digunakan pula untuk menyubsidi kegiatan Posyandu dan kelas belajar warga. Selain itu, jimpitan juga terbukti mampu menyelamatkan warga yang tidak dapat mengakses layanan keuangan. Karena itulah banyak orang menyebut jimpitan sebagai kearifan lokal yang mesti dipertahankan, terlebih tradisi ini juga sejalan dengan konsep gotong royong di Indonesia.

Ternyata saat ini ada juga yang kembali menerapkan jimpitan menggunakan beras sesendok yaitu di Dusun Ngumpul, Desa Kedungumpul, Kecamatan Kandangan. Setelah beras terkumpul banyak, beras ini dibagikan oleh Karang Taruna yang menjadi relawan Rumah Zakat ke warga yang membutuhkan berdasarkan rekomendasi dari ketua RT.
 
Uang Receh
https://www.pexels.com/@pixabay
Sejarah Jimpitan
Jimpitan sering dilakukan di pedesaan-pedesaan dan perkampungan-perkampungan di Jawa, utamanya D. I. Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Meski demikian, sejarah awal dimulainya jimpitan masih merupakan sebuah misteri karena banyak versi yang mengungkapkan tahun awal dimulainya jimpitan. Namun yang pasti tradisi ini dimulai sejak warga desa di Jawa berkesadaran diri untuk tinggal berkelompok dengan warga lain yang sama-sama memiliki kesulitan ekonomi pada masa penjajahan Belanda.

Di era 1960—1965 kala inflasi berkisar dari 20 hingga 694 persen, periode tersebut merupakan bencana bagi masyarakat. Harga kebutuhan pokok naik. Rakyat prasejahtera kesulitan membeli barang-barang kebutuhan pokok. Akan tetapi, jimpitan menjadi penyelamat karena jimpitan beras membuat rakyat prasejahtera bisa mendapatkan beras secara cuma-cuma. Dengan tradisi ini, rakyat prasejahtera jelas terbantu.


Setelah membaca pemaparan tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa betapa pentingnya mempertahankan keberadaan kearifan lokal, dalam hal ini jimpitan, dari masyarakat kita terdahulu sehingga di saat-saat genting, misal saat ini pandemi corona, kita masih bisa bertahan untuk melawannya, baik dari segi kesehatan (membeli alat dan cairan disinfektan dari hasil jimpitan uang receh) maupun kecukupan pangan (beras dari hasil jimpitan beras). Semoga artikel ini bermanfaat.


Terima kasih kepada:
Bapak saya
https://www.indonesia.go.id/ragam/budaya/kebudayaan/jimpitan-tradisi-pendukung-ekonomi-rakyat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEMASANGAN BENDERA MERAH PUTIH DI TANAH AIR

Sang Saka Merah Putih Hari kemerdekaan Republik Indonesia tinggal 16 hari lagi, 2 pekan lebih sedikit. Setiap tahun seluruh Indonesia...