Jumat, 24 Juli 2020

SERBA-SERBI RUKUN TETANGGA, Rukun Agawe Santoso, Crah Agawe Bubrah

Ketua RT

Kita tahu bahwa RT adalah singkatan dari Rukun Tetangga. Rukun Tetangga (Tonarigumi) adalah warisan dari zaman pendudukan Jepang. Pembentukan RT ini digagas untuk tujuan merapatkan barisan penduduk Indonesia sekaligus berfungsi melakukan pengendalian dan pengawasan pemerintah militer Jepang terhadap penduduk di suatu wilayah. Seiring dengan kemerdekaan Indonesia, RT pun berubah peran.


Bagian-bagian RT terdiri dari
1.      Ketua RT
Ketua RT dipilih dengan sistem seperti Pemilu. Warga boleh mencalonkan diri untuk menjadi ketua. Selain itu, warga juga boleh mengajukan calon ketua RT yang nantinya akan ditanyai panitia pemilihan apakah mau dipilih atau tidak. Selanjutnya diadakan pemilihan dengan kartu suara.
2.      Sekretaris
Mengurusi bagian ketik-mengetik.
3.      Bendahara
Mengurusi keuangan.
4.      Seksi-seksi:  Lingkungan, Humas, Pembangunan, Perlengkapan, Sosial, Pemuda dan Olahraga, dan Keamanan.
Apabila di suatu seksi terdapat kekurangan, seksi itu dapat melapor ke ketua RT. Tak hanya itu. Tiap seksi pun bisa dibantu seksi lain agar tugas dapat teringankan.

Fungsi RT adalah untuk
1.      Melayani warga dengan berbagai macam urusan surat-menyurat seperti surat nikah, kelahiran, kematian, dll.
2.      Mengurusi warga yang ditimpa masalah seperti kematian misalnya.
3.      Mengadakan ronda untuk menjaga keamanan. Apabila ada hal-hal yang mencurigakan bisa ditangani RT.
4.      Mengumpulkan dana lewat jimpitan sehingga aktivitas sosial bisa terbantukan atau untuk piknik warga.
 
Pos Ronda
Menjadi pengurus RT terutama ketua RT itu ada suka-dukanya.  Pengurus RT itu bekerja sukarela tanpa pamrih dan tak kenal waktu (jam berapapun dibutuhkan, mereka siap). Misal jam 1 pagi ada yang meninggal, RT siap membantu mengurusi jenazah. Selain itu, misal jam berapapun ada pertengkaran antarwarga, RT turun tangan menengahi. Dukanya menjadi ketua RT itu, terkadang ada masalah sedikit, ketua RT kena marah. Jadi, menjadi ketua RT harus bisa mengasuh, bijak, dan pengertian terhadap warga. Kalau tidak bisa seperti itu, rusak jadinya.

Dalam kehidupan bertetangga, tentu ada dinamikanya. Untuk itu perlu bagi kita untuk mengingat pesan salah satu ketua RT di Indonesia Raya ini terkait kehidupan bertetangga.

“Ada peribahasa Jawa Rukun Agawe Santoso, Crah Agawe Bubrah, yang artinya:  kalau kita hidup rukun, kita akan kuat (sentosa), tetapi kalau sedikit-sedikit caci-maki, hidup akan tercerai-berai.”

“Di masyarakat, kita hendaknya hidup rukun, tidak boleh bertengkar, dan guyup rukun, ada apa-apa dikerjakan bersama-sama sebab ketentraman hidup bertetangga itu asalnya dari rukun, tidak caci-maki, tidak saling mendendam. Guyup itu kalau ada kerja bakti, ronda, semua berangkat demi kemaslahatan bersama.”






Terima kasih kepada:

Ketua RT R. Subandono
https://www.kompasiana.com/wahyuandre/5775ac19927e6153048b457e/sejarah-lahirnya-rt-rukun-tetangga-rw-rukun-warga?page=all 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEMASANGAN BENDERA MERAH PUTIH DI TANAH AIR

Sang Saka Merah Putih Hari kemerdekaan Republik Indonesia tinggal 16 hari lagi, 2 pekan lebih sedikit. Setiap tahun seluruh Indonesia...